Ranap

aku bertanya
tulisan buruk,
kertas lunyai,
pensel tumpul,
bolehkah kau
membawa aku
keluar berdiri
di alam nyata

perlukah
aku bertulis
sehingga
jari-jemariku
ranap
di bawah
dunia yang terpinggir
di sudut
kepala ini

kata-kata

itu

hiasan

murah

ayuh bergegas!
bisik mulut ini
dabik dada ini

tetapi

aku
masih
termangu
terduduk

berpuisi kepada
dunia yang sepi
bersyair kepada
pendengar yang buta
mendakap rapat kepada
kesunyian yang likat

bawalah aku jauh
aku tidak mahu pulang

bawalah aku jauh

aku tidak mahu.


I wrote this in 2010. I’m sorry for the non-Malay speakers! When I wrote this poem, I was already jaded with poetry as a medium. I don’t think it transmutes thought as well as long-form written works. Sometime after this poem, I gave up writing on poetry completely.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s